MENGUNGKAP POTENSI MAGOT SEBAGAI PAKAN IKAN INDUK UNGGUL

Foto untuk : MENGUNGKAP POTENSI MAGOT SEBAGAI PAKAN IKAN INDUK UNGGUL

Rabu, 22 Juli 2020, Saat ini magot sudah tidak asing lagi dalam dunia perikanan, karena telah banyak pelaku budidaya ikan menggunakan magot sebagai pakan ikan. Kali ini Kepala Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH), Dr. Idil Ardi menjalin koordinasi dengan Kepala Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Dr. Joni Haryadi untuk menggunakan magot sebagai pakan ikan konsumsi yang dikembangkan penelitiannya.

 

Dalam sambutannya Idil menjelaskan magot untuk pakan ikan hias sudah tidak diragukan lagi keunggulannya. Sejumlah riset yang pernah dilakukan di balai yang dipimpinnya menggunakan magot untuk pakan ikan hias diantaranya ikan hias Koi, Balasak, Botia, Gurame Padang, respon yang terlihat jelas pada ikan yaitu pertumbuhannya lebih cepat, lebih sehat, dan dari sisi reproduksinya terlihat  kualitas telur lebih bagus serta waktu recovery induk lebih cepat. Idil menambahkan hal yang sangat penting diperhatikan dalam memberikan magot segar untuk pakan ikan mulai dari magot stadia larva sampai stadia sebelum pre pupa dapat digunakan untuk pakan ikan karena setiap stadia (umur) magot menentukan besar kandungan proteinnya ini adakaitanya dalam aplikasinya sebagai pakan ikan. 

 

Joni menyambut baik tim dari Balai Riset Budidaya ikan Hias untuk sharing pemanfaatan dan pengembangan teknologi budidaya magot di balai yang ditanganinya. Joni melihat dari sisi lain penggunaan magot untuk pakan ikan yang sedang dirisetnya. Lebih lanjut dijelaskan keinginannya, magot dapat digunakan untuk pakan ikan induk unggul hasil pemuliaan agar dapat terjaga kualitas dan kuantitas reproduksinya dengan baik.

 

Penuh dengan rasa optimisnya, Joni dalam diskusi pemanfaatan magot sebagai pakan ikan turut mengajak beberapa peneliti penanggungjawab komoditas ikan induk unggul yang dirisetnya. Komoditas ikan unggul yang dikembangkan diantaranya ikan lele, ikan nila, ikan mas, ikan gurami, ikan patin, udang dan ikan lokal. Jelas sudah dalam diskusi masing-masing penanggungjawab menyampaikan pengalamannya dalam menangani komoditas ikan yang dirisetnya, menurut mereka pada waktu tertentu kualitas gonad kurang bagus, karena induk ikan betina volume gonadnya cenderung lebih sedikit dan bahkan ikan jantan sulit untuk matang gonad terutama pada saat musim kemarau seperti masa sekarang ini.

Dengan asa dihadapan sejumlah penenlitinya Joni menyatakan tidak hanya ingin mencoba penggunaan pakan magot, tapi ingin langsung melakukan uji coba produksi magot secara mandiri di balainya tentu melalui aplikasi teknologi dari Blai Riset Budidaya Ikan Hias.

 

Pada kesempatan ini, Dr. Melta Rini Fahmi menjelaskan dengan rinci bagaimana proses produksi magot untuk pakan ikan. Berdasarkan pengalamannya menekuni riset magot selama 14 tahun dan terus berinovasi sampai saat ini. Berbicara teknologi magot tentu semakin menarik untuk disimak, kata kunci yang disampaikan oleh Rini adalah jika ingin produksi magot jangan takut untuk memulai, jika sudah dimulai maka dengan sendirinya secara perlahan bisa berkembang sesuai dengan harapan. Rini mencoba menjelaskan kegiatan produksi magot berdasarkan tahapan yang harus dilalui, tahap awal menginventarisasi sumber bahan baku. Bahan baku berupa sisa bahan organik yang berasal dari rumah tangga, restoran, hotel, rumah sakit, industry makanan dan sebagainya yang tersedia dekat dengan lokasi kegiatan produksi magot yang direncanakan. Tahap selanjutnya menyiapkan telur magot, tentu untuk mendapatkan telur harus disediakan terlebih dahulu insektarium (kandang) lalat. Lalatnya sendiri atau dikenal juga dengan nama black solder fly bisa didapat dari alam atau lebih mudah dengan membeli pupa dari tempat lain yang telah produksi magot. Tahap terakhir menyediakan wadah biokonversi, tempat dimana larva magot melakukan proses ekstraksi nutrisi dari bahan organik. Bahan organik yang berasal dari berbagai sumber tersebut sebaiknya sudah dalam bentuk bubur dimasukkan dalam wadah biokonversi agar mempermudah proses biokonversi berlangsung. Pengalaman Rini, larva magot umur 3 hari dimasukkan dalam wadah biokonversi setelah selama 14 hari maka magot sudah bisa dipanen dan siap diberikan sebagai pakan ikan.

 

Berkembangnya aplikasi teknologi pemanfaatan magot untuk pakan ikan tidak saja pakan ikan hias, tapi juga untuk pakan ikan konsumsi dalam pemanfaatannya lebih pada kebutuhan fungsional. Kali ini ingin diketahui seperti apa hasilnya magot diaplikasi sebagai pakan ikan dalam meningkatkan performa kapasitas reproduksinya. Harapannya pakan magot tidak saja dapat meningkatkan pertumbuhan ikan tetapi kedepan dibutuhkan pula untuk meningkatkan kapasitas reproduksi ikan budidaya. (IA)

e-Pegawai KKP
Peniliti Lipi